PENERAPAN METODE DRILL (LATIHAN) DALAM UPAYA
MENINGKATKAN MUTU BELAJAR AQIDAH AKHLAK PADA SISWA KELAS V MI NAHDLATUL ATFAL PALENGAAN DAJA .KECAMATAN PALENGAAN KABUPATEN PAMEKASAN TAHUN
PELAJARAN 2014/2015
KARYA
ILMIAH
OLEH
MOH
ALIMUDDIN,S.Ag
NIP:19711005
200701 1042
KANTOR
KEMENTERIAN AGAMA
KABUPATEN PAMEKASAN
2014/2015
HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN
Setelah
membaca dan mencermati karya ilmiah yang merupakan ulasan hasil penelitian yang
tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan MI Nahdlatul Atfal Desa Palengaan Daja Kecamatan
Palengaan Kabupaten Pamekasan hasil karya dari:
Nama : MOH ALIMUDDIN,S.Ag
NIP :
197110052007011042
Judul : Peningkatan
Pembelajaran Aqidah Melalui metode pemberian tugas belajar dan resitasi
Pada Siswa Kelas V MI Nahdlatul
Atfal Desa Palengaan Daja Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan
Tahun Pelajaran 2014/2015.
Menyetujui dan mengesahkan untuk diajukan mendapatkan
Penetapan Angka Kredit Kenaikan Pangkat dalam jabatan fungsional guru.
HALAMAN
PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN
Karya Ilmiah ini diajukan sebagai syarat untuk memenuhi penetapan angka
kredit kenaikan pangkat dalam jabatan fungsional guru. Karya ilmiah ini tidak
dipublikasikan tetapi telah disetujui dan disahkan untuk didokumentasikan di
perpustakaan MI Nahdlatul Atfal Desa
Palengaan Daja Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan
Perpustakawan
Kepala
MOHAMMAD BARDI ABD HISAB
NIP: …………. NIP:
……………..
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap syukur Alhamdulillah
kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis
dapat menyelesaikan tugas penyusunan karya ilmiah dengan judul “Peningkatan
Pembelajaran Aqidah Melalui metode pemberian tugas belajar dan resitasi
Pada Siswa Kelas V MI Nahdlatul
Atfal Desa Palengaan Daja Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan Tahun Pelajaran 2014/2015 penulisan karya ilmiah ini kami susun
untuk dipakai dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan dapat dipakai sebagai
perbandingan dalam pembuatan karya ilmiah bagi teman sejawat juga anak didik
pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pembinaan karya ilmiah remaja.
Dalam
penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai
pihak. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan tulus dan
sedalam-dalamnya kepada:
1.
Yth.
Kepala Kepala Kantor Kementerian Agama Kab.Pamekasan
2.
Yth.
Kasi Mapenda Kantor Kementerian Agama Kab.Pamekasan
3.
Yth. Rekan-rekan Guru MI Nahdlatul
Atfal Desa Palengaan Daja Kecamatan
.Palengaan Kabupaten Pamekasan
4.
Semua
pihak yang telah banyak membantu sehingga penulisan ini selesai.
Penulis menyadari
bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari sempurna untuk itu segala kritik dan
saran yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis harapkan.
Penulis
ABSTRAK
- Moh.Alimuddin , 2015. Peningkatan Pembelajaran Aqidah Melalui metode pemberian tugas belajar dan resitasi Pada Siswa Kelas V MI Nahdlatul Atfal Desa Palengaan Daja Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan Tahun Pelajaran 2014/2015
Kata
Kunci: Aqidah, metode pemberian tugas belajar dan resitasi
Berhasilnya tujuan pembelajaran
ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan
proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi,
membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi
permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran
guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik
dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep
mata pelajaran yang akan disampaikan.
Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah: (a)
Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya
pembelajaran berbasis masalah? (b) Bagaimanakah pengaruh metode pembelajaran
berbasis masalah terhadap motivasi belajar siswa?
Tujuan dari penelitian tindakan ini adalah: (a) Ingin mengetahui
peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran berbasis
masalah. (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah
diterapkannya metode pembelajaran berbasis masalah.
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari
empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas.V MI Nahdlatul Atfal Desa Palengaan Daja Kecamatan Palengan Kabupaten Pamekasan Tahun Pelajaran 2014/2015 Data yang diperoleh berupa hasil tes
formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar.
Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar
siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I
(68,18%), siklus II (77,27%), siklus III (86,36%).
Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode
berbasis masalah dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa Kelas.V MI Nahdlatul Atfal Desa
Palengaan Daja Kecamatan Palengan Kabupaten Pamekasan Tahun Pelajaran 2014/2015 serta metode pembelajaran ini dapat digunakan
sebagai salah satu alternatif pembelajaran Aqidah.
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman
Judul ................................................................................................ i
Lembar
Pengesahan ....................................................................................... ii.........
Kata
Pengantar ............................................................................................. iii.........
Abstrak
......................................................................................................... iv.........
Daftar
Isi ...................................................................................................... vi.........
BAB ..... I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah ................................................. 1.........
B.
Perumusan
Masalah.......................................................... 4.........
C.
Tujuan
Penelitian ............................................................. 4.........
D.
Manfaat
Penelitian ........................................................... 5.........
E.
Batasan
Masalah .............................................................. 5.........
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Pembelajaran....................................................... 6.........
B. Motivasi............................................................................ 7.........
C. Prestasi Belajar Aqidah.................................................. 15
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian ........................ 27.........
B.
Rancangan
Penelitian ................................................... 27.........
C.
Instrumen
Penelitian ...................................................... 30.........
D.
Metode
Pengumpulan Data .......................................... 31.........
E.
Teknik
Analisis Data ..................................................... 31.........
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Analisis
Data Penelitian Persiklus ................................ 34.........
B.
Pembahasan
.................................................................. 44.........
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
.................................................................... 46.........
B.
Saran
.............................................................................. 46.........
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 48.........
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Guru
memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas
pengajaran yang dilaksanakan. Oleh sebab itu, guru harus memikirkan dan membuat perencanaan
secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya dan
memperbaiki kualitas mengajarnya.
Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam
mengorganisasikan kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar,
maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar.
Guru berperan sebagai pengelola proses belajar-mengajar, bertindak sebagai
fasilitor yang berusaha mencipatakan kondisi belajar mengajar yang efektif,
sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran
dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan
menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Untuk memenuhi hal
tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang
memberikan rangsangan kepada siswa, sehingga ia mau belajar karena siswalah
subyek utama dalam belajar.
Kegiatan
belajar bersama dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan belajar dan
mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif. Namun kemampuan
untuk mengajar melalui kegiatan kerjasana kelompok kecil akan memungkinkan untuk
menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan
siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada teman-temannya
memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran.
Pembelajaran
Aqidah tidak lagi mengutamakan pada penyerapan melalui
pencapaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan
pemrosesan informasi. Untuk itu aktifitas peserta didik perlu
ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas dengan bekerja dalam kelompok
kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain. (Hartoyo, 2000:24).
Berdasarkan
uraian tersebut diatas maka peneliti ingin mencoba melakukan penelitian dengan
judul “ Peningkatan Pembelajaran Aqidah Ahklak
Melalui metode pemberian
tugas belajar dan resitasi Pada Siswa MI
Nahddlatul Atfal Desa Palengaan Daja Kecamatan
Palengaan Kabupaten Pamekasan
Tahun Pelajaran 2013/2014
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat
dirumuskan suatu masalah sebagai berikut:
- Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya metode pemberian tugas belajar dan resitasi?
- Bagaimanakah pengaruh metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi terhadap motivasi belajar siswa?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
- Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode pemberian tugas belajar dan resitasi.
- Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan metode pemberian tugas belajar dan resitasi.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan
pada permasalahan dalam penelitian tindakan yang berjudul Peningkatan Pembelajaran Aqidah Ahklak
Melalui metode pemberian
tugas belajar dan resitasi Pada Siswa MI
Nahddlatul Atfal Desa Palengaan Daja Kecamatan
Palengaan Kabupaten Pamekasan
Tahun Pelajaran 2014/2015
yang dilakukan oleh peneliti, dapat dirumuskan
hipotesis tindakan sebagai berikut:
"Jika Proses Belajar Mengajar Siswa Kelas V MI Nahdlatul Atfal Desa
Palengaan Daja Kec.Palengaan Kab.Pamekasan . menggunakan metode Pemberian tugas Dan
Resitasi dalam menyampaikan materi pembelajaran, maka
dimungkinkan minat belajar dan hasil belajar siswa kelas V MI Nahdlatul Atfal akan lebih baik dibandingkan dengan proses
belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebelumnya".
E. Manfaat Penelitian
Penulis mengharapkan dengan hasil penelitian ini dapat:
- Memberikan
informasi tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan materi Aqidah Akhlak.
- Meningkatkan motivasi pada pelajaran Aqidah Akhlak
- Mengembangkan
metode pembelajaran yang sesuai dengan bidang studi Aqidah Akhlak.
F. Batasan
Masalah
Karena
keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah meliputi:
- Penelitian in ihanya dikenakan pada siswa Kelas V MI Nahdlatul Atfal Desa Palengaan .Kecamatan .Palengaan Kabupaten Pamekasan Tahun Pelajaran 2014/2015
- Penelitian ini dilakukan pada bulan September semester ganjil tahun pelajaran 2014/2015
- Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan Kalimat Toyyibah
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
- Definisi
Pembelajaran
Pembelajaran adalah
proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedangkan belajar
adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berusaha tingkah laku atau
tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (KBBI, 1996:14)
Sependapat dengan
pernyataan tersebut Soetomo (1993:68) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah
proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga
memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku
tertentu pula. Sedangkan belajar adalah suatu proses yang menyebabkan tingkah
laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi
perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah, berkembang daya pikir, sikap
dan lain-lain (Soetomo, 1993:120)
Pasal 1 Undang –undang
No. 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta
didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Jadi pembelajaran adalah
proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan
belajar untuk melakukan kegiatan pada siatuasi tertentu.
B. Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi
1. Pengertian Motivasi
Menurut Djamarah (2002:
114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang
kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses
belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai
motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini
sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi
dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam
mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan meyerap dan mengendapkan mateti
itu dengan lebih baik.
Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang
mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
3.
Macam-macam Motivasi
Menurut jenisnya motivasi dibedakan
menjadi dua, yaitu:
a. Motivasi
Intrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat
dari dalam individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari
orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan
sesuatu atau belajar (Usman, 2000: 29).
b. Motivasi Ekstrinsik
Jenis
motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena
adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi
yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar. Misalnya
seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat
pertama dikelasnya (Usman, 2000: 29).
Dari
uraian di atas diketahui bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul
dari luar individu yang berfungsinya karena adanya perangsang dari luar,
misalnya adanya persaingan, untuk mencapai nilai yang tinggi, dan lain
sebagainya.
C. Pengajaran metode
pemberian tugas belajar dan resitasi
1. DEFINISI
Yang dimaksud dengan pemberian tugas belajar dan resitasi ialah suatu cara mengajar di mana
seorang guru memberikan tugas-tugas
tertentu kepada peserta didik, sedangkan hasil tersebut di periksa oleh guru dan peserta didik
mempertanggung jawabkannya.
Pertanggungan
jawab itu dapat dilaksanakan dengan cara
-
Dengan menjawab test yang diberikan oleh guru.
-
Dengan menyampaikan ke muka berupa lisan
-
Dengan cara tertulis.
Dalam
metode ini kita menemukan tiga istilah penting
1. Tugas:
Tugas adalah suatu pekerjaan yang harus dilakukan baik
tugas datangnya dari
orang lain maupun dari dalam diri kita sendiri. Di sekolah biasanya itu datang dari pihak guru atau kepala sekolah
atau peserta didik sendiri. Tugas ini biasanya bersifat educatif dan bukan bersifat dan berunsur pekerjaan.
2. Belajar.
Banyak sekali
perumusan tentang belajar
Menurut S.
Nasution ada beberapa batasan istilah belajar
a) Belajar adalah perubahan dalam
sistem urat saraf.
b) Belajar adalah
penambahan pengetahuan.
c) Belajar adalah
perubahan kelakuan berkat pengalaman dan pengertian.
Perubahan tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh apa yang dimiliki seseorang itu, seperti:
sifat, pengalaman, pengetahuan,
keterampilan, keadaan jasmaniah dan lain-lain
sebagainya, dan jugs dipengaruhi pula oleh lingkungan.
Hasil belajar dipengaruhi pula oleh motif
bahan yang dipelajari dengan mempergunakan
alat-alat, waktu, cara belajar dan sebagainya.
3. Resitasi
Resitasi adalah penyajian kembali atau penimbulan kembali
sesuatu yang sudah
dimiliki, diketahui atau dipelajari. Metode ini sering disebut metode pekerjaan
rupiah.
Prinsip yang
mendasari metode ini ada dalam AI-Quran. Tuhan memberikan suatu
tugas yang berat terhadap Nabi Muhammad sebelum dia melaksanakan tugas
ke-Rasulannya. Tugas yang diintruksikan itu ialah berupa sifat-sifat
kepemimpinan yang harus dimiliki.
Firman Allah S.W.T
Hai orang yang berselubung, bangunlah dan
pertakutilah kaummu,
hendak besarkan Tuhan-mu. Dan bersihkanlah pakaianmu!
Tinggallah pekerjaan-pekerjaan yang mendatangkan siksaan. Janganlah engkau
memberi kepada orang lain lantaran hendak
meminta lebih banyak. Sabar dan uletlah menurut perintah Tuhan. (Q.S. Al Mudatatsir: 1-7).
Jadi Tuhan memberikan tugas lima
macam, antara lain:
a. Ta'at beragama
(membesarkan Tuhan).
b. Giat dan rajin
berdakwah.
c. Membersihkan
diri, jiwa dari kekotoran lahir dan bathin.
d. Percaya
pada diri sendiri dan tidak mengharapkan sesuatu pada orang lain.
e. Tabah dan ulet
dalam melaksanakan tugas.
2. PASE-PASE
RESITASI
Dengan metode Resitasi terdapat 3
fase
1. Guru memberikan tugas:
Tugas yang diberikan oleh guru harus disesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Dalam
pelaksanaan tugas itu kemungkinan
peserta didik akan menjawab dan penyelesaikan suatu bentuk hitungan dan ada pula berbentuk sesuatu
yang harus diselesaikan,
ada pula berbentuk sesuatu yang baik dari berbagai aspek.
2. Murid melaksanakan tugas (belajar) cara murid belajar
akan terlaksana dengan
balk apabila dia belajar sesuai dengan petunjuk yang diberikan guru dan sesuai dengan tujuan yang hendak
dicapai.
3. Murid mempertanggung jawabkan hasil, pekerjaannya (resitasinya).
Resitasi itu juga akan wajar apabila sesuai dengan tujuan pemberian tugas.3>
3. KEUNTUNGAN METODE RESITASI
1. Peserta didik belajar membiasakan untuk
mengambil inisiatif sendiri
dalam segala tugas yang diberikan.
2.
Meringankan tugas guru yang diberikan.
3. Dapat mempertebal rasa
tanggung jawab. Karena hasil-hasil yang dikerjakan dipertanggung jawabkan
dihadapan guru.
4. Memupuk
anak agar mereka dapat berdiri sendiri tanpa mengharapkan bantuan orang lain.
5.
Mendorong peserta didik supaya
suka berlomba-lomba untuk mencapai sukses.
6. Hasil pelajaran akan tahan
lama karena pelajaran sesuai dengan minat peserta didik.
7. Dapat memperdalam pengertian dan
menambah keaktipan dan kecakapan
peserta didik.
8. Waktu yang dipergunakan tak terbatas
sampai pada jam jam
9.
sekolah.
4. KELEMAHAN METODE RESITASI
- Peserta didik yang
terlalu bodoh sukar sekali belajar.
- Kemungkinan tugas yang diberikan tapi dikerjakan oleh orang lain.
- Kadang-kadang peserta didik menyalin atau meniru pekerjaan temannya
sehingga pengalamannya sendiri tidak ada.
- Kadang-kadang pembahasannya kurang sempurna.
- Bila tugas terlalu sering dilakukan oleh murid akan menyebabkan
- Terganggunya kesehatan
peserta didik, karena mereka kembali dari sekolah selalu melakukan tugas,
seingga waktu bermain tidak ada.
- Menyebabkan peserta didik
asal mengerjakan saja karena mereka menganggap tugas-tugas tersebut
membosankan.
-Mencari tugas-tugas yang
sesuai dengan kemampuan setiap individu sulit, jalan pelajaran lambat dan
memakan waktu yang lama.
-Kalau peserta didik terlalu
banyak kadang-kadang guru tak sanggup memeriksa tugas-tugas peserta didik
tersebut.
5. LANGKAH-LANGKAH
YANG HARUS DIRUMUSKAN TERLEBIH DAHULU DALAM PELAKSANAAN RESITASI
1. Pemberian Tugas Dan Penjelasan
a. Tujuan yang harus dicapai mestilah dirumuskan terlebih dahulu secara
jelas.
b. Terangkan dengan jelas tugas-tugas yang akan dikerjakan murid.
c. Selidiki apakah metode resitasi satu-satunya yang terbaik untuk bahan
yang akan diajarkan.
2. Pelaksanaan Tugas.
a. Setiap tugas yang diberikan harus di kontrol.
b. Siswa yang mengalami kegagalan harus dibimbing.
c. Hargailah setiap tugas yang di kerjakan murid.
d. Berikan dorongan bagi siswa
kurang bergairah.
e. Tentukan bentuk-bentuk resitasi yang akan dipakai.
f. Saran-saran:
1) Tugas yang diberikan harus
jelas, sehingga anak mengerti betul apa yang harus dikerjakan.
2) Waktu untuk menyelesaikan tugas harus cukup.
3) Adakan kontrol yang sistimatis sehingga mendorong anak¬anak bekerja
dengan sungguh-sungguh.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan
masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian
deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan
dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti, 1997; 8) mengelompokkan
penelitian tindakan menjadi empat macam yaitu (a) guru bertindak sebagai
peneliti, (b) penelitian tindakan kolaboratif, (c) Simultan terintegratif, dan
(d) administrasi social ekperimental.
Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentu guru sebagai peneliti,
penanggung jawab penuh penelitian tindakan adalah praktisi (guru). Tujuan utama
dari penelitian tindakan ini adalah meningkatkan hasil pembelajaran di kelas
dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan,
tindakan, pengamatan dan refleksi.
Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun,
kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan
seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang
seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.
Penelitian ini akan dihentikan
apabila ketuntasan belajar secara kalasikal telah mencapai 85% atau lebih. Jadi
dalam penelitian ini, peneliti tidak tergantung pada jumlah siklus yang harus
dilalui.
A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian
1. Tempat
Penelitian
- Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di MI Nahdlatul Atfal Desa Palengaan Daja Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan Tahun Pelajaran 2014/2015
2. Waktu
Penelitian
- Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September semester gasal 2014/2015
3. Subyek
Penelitian
- Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas V MI Nahdlatul Atfal Desa Palengaan Daja Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan Tahun Pelajaran 2014/2015
B. Rancangan Penelitian
Penelitian
ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek
PGSM, PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku
tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan
mereka dalam melaksanakan tugas,
memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta
memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan (dalam
Mukhlis, 2000: 3).
Sedangkah menurut Mukhlis (2000: 5) PTK adalah suatu
bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk
memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan.
Adapun tujuan utama dari PTK adalah untuk
memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran secara berkesinambungan, sedangkan
tujuan penyertaannya adalah menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru
(Mukhlis, 2000: 5).
Sesuai dengan jenis penelitian yang
dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model
penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart
(dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu
ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan),
observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada
siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan,
dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang
berupa identifikasi permasalahan. Siklus
spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar
berikut.
Gambar 3.1 Alur
PTK
Penjelasan alur di atas adalah:
- Rancangan/rencana
awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah,
tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen
penelitian dan perangkat pembelajaran.
- Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran model discovery .
- Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
- Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
Observasi dibagi dalam tiga putaran,
yaitu putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang sama
(alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri
dengan tes formatif di akhir masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran
dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan.
C. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Silabus
Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang
kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar.
2. Rencana
Pelajaran (RP)
Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan
sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran.
Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indicator pencapaian hasil belajar,
tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar.
3. Lembar
Kegiatan Siswa
Lembar kegaian ini yang dipergunakan siswa untuk
membantu proses pengumpulan data hasil eksperimen.
4. Lembar
Observasi Kegiatan Belajar Mengajar
a.
Lembar observasi pengolahan metode pemberian tugas
belajar dan resitasi, untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola
pembelajaran.
b.
Lembar observasi aktivitas siswa dan guru, untuk
mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran.
5. Tes
formatif
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tes
formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah
pilihan ganda (objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 .
D. Metode Pengumpulan Data
Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini
diperoleh melalui observasi pengolahan metode pemberian tugas belajar dan
resitasi, observasi aktivitas siswa dan guru, dan tes formatif.
E. Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam
kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini
menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode
penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data
yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai
siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiata pembelajaran serta
aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase
keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan
dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir
putaran.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:
- Untuk menilai ulangan atu tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh
siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut
sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

Dengan :
=
Nilai rata-rata
Σ X =
Jumlah semua nilai siswa
Σ N = Jumlah siswa
2. Untuk ketuntasan belajar
Ada dua
kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal.
Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud,
1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65%
atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat
85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%. Untuk
menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal,
data observasi berupa pengamatan pengelolaan metode pemberian tugas belajar dan
resitasi dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada akhir pembelajaran, dan
data tes formatif siswa pada setiap siklus.
Data hasil uji coba item butir soal
digunakan untuk mendapatkan tes yang betul-betul mewakili apa yang diinginka. Data ini selanjutnya dianalisis
tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda.
Data
lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data pengamatan penglolaan
metode pemberian tugas belajar dan resitasi yang digunakan untuk mengetahui
pengaruh penerapan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi dalam
meningkatkan prestasi
Data
tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah
diterapkan metode pemberian tugas belajar dan resitasi.
A. Analisis
Data Penelitian Persiklus
1. Siklus I
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1,
dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b. Tahap
Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I
dilaksanakan pada tanggal 11
September 2013 di MI
Nahdlatul Atfal dengan jumlah
siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses
belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan.
Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar
mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes
formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam
proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada
siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2. Hasil Tes Formatif Siswa
Pada Siklus I
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
||
|
T
|
TT
|
T
|
TT
|
||||
|
1
|
60
|
|
√
|
12
|
60
|
|
√
|
|
2
|
70
|
√
|
|
13
|
80
|
√
|
|
|
3
|
70
|
√
|
|
14
|
70
|
√
|
|
|
4
|
60
|
|
√
|
15
|
80
|
√
|
|
|
5
|
80
|
√
|
|
16
|
70
|
√
|
|
|
6
|
80
|
√
|
|
17
|
90
|
√
|
|
|
7
|
70
|
√
|
|
18
|
60
|
|
√
|
|
8
|
70
|
√
|
|
19
|
60
|
|
√
|
|
9
|
60
|
|
√
|
20
|
70
|
√
|
|
|
10
|
80
|
√
|
|
21
|
70
|
√
|
|
|
11
|
50
|
|
√
|
22
|
60
|
|
√
|
|
Jumlah
|
750
|
7
|
4
|
Jumlah
|
770
|
8
|
3
|
|
Jumlah Skor 1520
Jumlah Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata Skor Tercapai
69,09
|
|||||||
Keterangan: T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas :
15
Jumlah siswa yang belum tuntas :
7
Klasikal :
Belum tuntas
Tabel
4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus I
|
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus I
|
|
1
2
3
|
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase
ketuntasan belajar
|
69,09
15
68,18
|
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan
menerapkan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi diperoleh nilai
rata-rata prestasi belajar siswa adalah 69,09 dan ketuntasan belajar mencapai
68,18% atau ada 15 siswa dari 22 siswa
sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara
klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 65
hanya sebesar 68,18% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki
yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum
mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan metode
metode pemberian tugas belajar dan resitasi.
2. Siklus II
a. Tahap
perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, LKS 2, soal tes formatif
II, dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b. Tahap
kegiatan dan pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II
dilaksanakan pada tanggal 20
September 2013 di MI
Nahdlatul Atfal dengan jumlah
siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses
belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi
pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang
lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan
pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes
formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa selama
proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang digunakan adalah
tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai
berikut.
Tabel 4.4.
Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
||
|
T
|
TT
|
T
|
TT
|
||||
|
1
|
60
|
|
√
|
12
|
90
|
√
|
|
|
2
|
80
|
√
|
|
13
|
80
|
√
|
|
|
3
|
80
|
√
|
|
14
|
80
|
√
|
|
|
4
|
90
|
√
|
|
15
|
80
|
√
|
|
|
5
|
90
|
√
|
|
16
|
80
|
√
|
|
|
6
|
60
|
|
√
|
17
|
60
|
|
√
|
|
7
|
80
|
√
|
|
18
|
80
|
√
|
|
|
8
|
70
|
√
|
|
19
|
70
|
√
|
|
|
9
|
60
|
|
√
|
20
|
60
|
|
√
|
|
10
|
80
|
√
|
|
21
|
80
|
√
|
|
|
11
|
90
|
√
|
|
22
|
80
|
√
|
|
|
Jumlah
|
840
|
8
|
3
|
Jumlah
|
840
|
9
|
2
|
|
Jumlah Skor 1680
Jumlah Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata Skor Tercapai
76,36
|
|||||||
Keterangan: T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas :
17
Jumlah siswa yang belum tuntas :
5
Klasikal :
Belum tuntas
Tabel 4.5. Rekapitulasi Hasil
Tes Siklus II
|
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus II
|
|
1
2
3
|
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase
ketuntasan belajar
|
76,36
17
77,27
|
Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi
belajar siswa adalah 76,36 dan ketuntasan belajar mencapai 77,27% atau ada 17
siswa dari 22 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada
siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah megalami peningkatan
sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini
karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu
diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk
belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan
diinginkan guru dengan menerapkan metode metode pemberian tugas belajar dan
resitasi.
3. Siklus III
a. Tahap
Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, LKS 3, soal tes formatif 3,
dan alat-alat pengajaran yang mendukung
b. Tahap
kegiatan dan pengamatan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III
dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober
2011 di MI Nahdlatul Atfal dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini
peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada
rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga
kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III.
Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar
mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes
formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam
proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah
tes formatif III. Adapun data hasil peneitian pada siklus III adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.6. Hasil Tes Formatif
Siswa Pada Siklus III
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
||
|
T
|
TT
|
T
|
TT
|
||||
|
1
|
90
|
√
|
|
12
|
90
|
√
|
|
|
2
|
90
|
√
|
|
13
|
90
|
√
|
|
|
3
|
90
|
√
|
|
14
|
90
|
√
|
|
|
4
|
80
|
√
|
|
15
|
60
|
|
√
|
|
5
|
90
|
√
|
|
16
|
90
|
√
|
|
|
6
|
80
|
√
|
|
17
|
80
|
√
|
|
|
7
|
90
|
√
|
|
18
|
70
|
√
|
|
|
8
|
60
|
|
√
|
19
|
70
|
√
|
|
|
9
|
90
|
√
|
|
20
|
80
|
√
|
|
|
10
|
90
|
√
|
|
21
|
90
|
√
|
|
|
11
|
60
|
|
√
|
22
|
80
|
√
|
|
|
Jumlah
|
910
|
9
|
2
|
Jumlah
|
890
|
10
|
1
|
|
Jumlah
Skor 1800
Jumlah
Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata Skor Tercapai
81,82
|
|||||||
Keterangan: T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas :
19
Jumlah siswa yang belum tuntas :
3
Klasikal :
Tuntas
Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus III
|
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus III
|
|
1
2
3
|
Nilai
rata-rata tes formatif
Jumlah
siswa yang tuntas belajar
Persentase
ketuntasan belajar
|
81,82
19
86,36
|
Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes
formatif sebesar 81,82 dan dari 22 siswa yang telah tuntas sebanyak 19 siswa
dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan
belajar yang telah tercapai sebesar 86,36% (termasuk kategori tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami
peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada
siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam
menerapkan metode pemberian tugas belajar dan resitasi sehingga siswa menjadi
lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam
memahami materi yang telah diberikan. Pada siklus III ini ketuntasan secara
klasikal telah tercapai, sehingga penelitian ini hanya sampai pada siklus III.
c. Refleksi
Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana
dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan
penerapan metode pemberian tugas belajar dan resitasi. Dari data-data yang
telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut:
1)
Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan
semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum
sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup
besar.
2)
Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa
aktif selama proses belajar berlangsung.
3)
Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah
mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.
4)
Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai
ketuntasan.
d. Revisi
Pelaksanaan
Pada siklus III guru telah menerapkan metode pemberian
tugas belajar dan resitasi dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta
hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan
baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu
diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mepertahankan
apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar
selanjutnya penerapan metode pemberian tugas belajar dan resitasi dapat
meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai.
B. Pembahasan
1. Ketuntasan
Hasil belajar Siswa
Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa metode
pemberian tugas belajar dan resitasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan
prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman
siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari
sklus I, II, dan II) yaitu masing-masing 68,18%, 77,27%, dan 86,36%. Pada
siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.
2. Kemampuan
Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa
dalam proses metode pemberian tugas belajar dan resitasi dalam setiap siklus
mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar
siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada
setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
3. Aktivitas
Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa
dalam proses pembelajaran Aqidahpada pokok bahasan mengarang yang paling
dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/
memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan
guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran
telah melaksanakan langah-langkah metode pemberian tugas belajar dan resitasi
dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya
aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan
LKS/menemukan konsep, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi umpan balik/evaluasi/tanya
jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan
selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah
dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pembelajaran
dengan berbasis masalah memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi
belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam
setiap siklus, yaitu siklus I (68,18%), siklus II (77,27%), siklus III
(86,36%).
- Penerapan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan hasil wawancara dengan sebagian siswa, rata-rata jawaban siswa menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.
B. Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian
sebelumnya agar proses belajar mengajar Aqidahlebih efektif dan lebih
memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai
berikut:
- Untuk melaksanakan model berbasis masalah memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan model berbasis masalah dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
- Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pembelajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
- Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakuakan di MI Nahdlatul Atfal Desa Palengaan Daja Kecamatan .Palengaan Kabupaten .Pamekasan Tahun Pelajaran 2014/2015
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar
Evaluasi Pendidikan. Jakarta :
Bumi Aksara.
Berg, Euwe Vd. (1991). Miskonsepsi Aqidahdan Remidi Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi
Belajar dan Mengajar. Bandung :
Sinar Baru Algesindo.
Joyce, Bruce dan Weil, Marsh. 1972. Models of Teaching Model. Boston :
A Liyn dan Bacon.
Masriyah. 1999. Analisis Butir
Tes. Surabaya :
Universitas Press.
Mukhlis, Abdul. (Ed). 2000. Penelitian
Tindakan Kelas. Makalah Panitia
Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah untuk Guru-guru se-Kabupaten Tuban.
Nur, Moh. 2001. Pemotivasian
Siswa untuk Belajar. Surabaya.
University Press. Universitas Negeri Surabaya.
Soedjadi, dkk. 2000. Pedoman
Penulisan dan Ujian Skripsi. Surabaya; Unesa Universitas Press.
Suryosubroto, B.
1997. Proses Belajar Mengajar di
Sekolah. Jakarta :
PT. Rineksa Cipta.
Usman, Uzer. 2000. Menjadi Guru
Profesional. Bandung :
PT. Remaja Rosdakarya.
Widoko. 2002. Metode
Pembelajaran Konsep. Surabaya : Universitas
Negeri Surabaya .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar